Mamaibuk Sharing Anything,  MamaibukKnowsBest,  Parenting

Parenting: Screen Time Kinan

Buat yang nyimak di Instagram Story (sekarang saya amankan di highlights) saya, mungkin akan ada beberapa pengulangan informasi di sini. But its ok ya kan beda platform hehe. Seperti janji yang saya buat sendiri beberapa waktu lalu di Instagram, postingan ini adalah soal membuat tulisan yang lebih rapi dan panjang tentang screen time Kinan. Here we go!


 

Semuanya bermula dari Kinan yang menurut saya sudah mengarah pada ketagihan nonton tv. Buat saya cukup ngeri, karena efeknya banyak dan jadi kayak domino, menjalar kemana-mana. Hasilnya ya saya sendiri yang capek dan makan hati. Bangun tidur, baru aja melek langsung nagih minta dinyalain tv. Awalnya begitu, tapi nggak lama bisa sendiri nyalain tv. Kebetulan channel juga udah pas di channel kesukaan Kinan karena saya dan suami hampir nggak pernah nonton tv. Meskipun sering disambi mengerjakan aktivitas lain, dan tv hanya digunakan sebagai background, tapi tetap saja ketika saya coba matikan tv, Kinan terus protes dan marah-marah. TV jadi seolah menyala seharian penuh hingga malam menjelang tidur.

Awalnya saya pikir ini hal yang wajar, toh Kinan nggak selalu duduk diam dan menyimak tv. Tapi lama kelamaan jadi menyebalkan. Saya harus berkali-kali memanggil Kinan ketika Kinan sedang asyik dengan tv. Ketika saya meminta Kinan melakukan hal lain juga harus dengan beberapa kali pengulangan. Mau mandi juga pakai drama ini itu, makan juga demikian. Belum lagi rasanya jadi semakin angel dikandani (bahasa jawa: sulit dinasehati). Setiap hari, setiap menjelang tidur dan waktu Kinan tidur saya berusaha sounding soal ini, supaya Kinan mendengar dan menurut kami (ayah ibunya).

MematikanTelevisi

Sampai akhirnya saya ngeh kalau ini harus dicari akar penyebabnya. Dulu Kinan nggak sesulit ini kok. Dulu Kinan cukup mudah dan peka dengan perasaan orang kok. Kemudian semua mengarah ke tv. Saya langsung membuat peraturan, yang saya sampaikan kepada Kinan dan ayahnya. Well, kita harus kompak dan konsisten kalau mau berhasil, kan?

TV mati total. Saya lakukan sebagai shock therapy dan saya cukup mengerti karakter Kinan yang cocok dengan cara seperti ini. Saya lepas kabel tv dan tv kabel. Saya menunda membayar tagihan (yang sampai sekarang kok masih nyala aja, curiga nanti tagihannya jadi dobel lol). Ayahnya setuju. Lagipula saat itu ayah Kinan masih dinas di luar kota jadi ya memang nggak masalah.

Tiga hingga lima hari pertama tanpa tv, Kinan masih cukup sering memohon untuk menyalakan tv. Benar-benar memohon: “Apakah Kinan boleh nonton tv, Ibuk? Kumohoooon.” nadanya memelas, hampir nggak tega tapi tetep mamaibuk harus kuat.

Setelah hari kelima, Kinan jadi biasa saja dan mulai mengerti kalau memang rumah sedang tidak lagi menyalakan tv.

 

Mengontrol Televisi

Dari buku yang saya baca, orang tua yang pasif adalah sebagai salah satu sumber masalah terkait dengan tidak terkontrolnya anak-anak menonton televisi. Televisi terkadang dianggal sebagai pengasuh pilihan bagi beberapa keluarga. Di sini saya nggak bermaksud nge-judge pilihan orang tua. Namun ada baiknya bila kita membuka pandangan lain soal menonton televisi yang tidak terkontrol.

Menonton televisi adalah kegiatan yang sangat pasif, tidak membutuhkan pemikiran, khayalan, dan usaha. Namun, bisa saja televisi ini jadi hal positif dan membantu belajar anak-anak tentungan dengan program berkualitas. Salah satu alasan saya memilih berlangganan tv kabel supaya dapat memilih saluran khusus anak-anak yang aman dan berkualitas. Saya tidak memungkiri bahwa sedikit banyak kosakata Kinan bertambah dari tayangan acara anak-anak.

Membuat aturan

Dikatakan dalam buku yang sama bahwa sebenarnya anak-anak tidak membutuhkan televisi untuk menghibur mereka. Kita dapat menetapkan aturan dasar keluarga yang masuk akal. Misalnya dengan menentukan acara-acara apa saja yang boleh ditonton anak-anak. Kemudian memberi batasan waktu dalam sehari bagi anak-anak untuk dapat menonton tv.

Mendampingi anak

Tv bukan saya jadikan sebagai nanny. Saya ikut duduk di sebelah Kinan dan menyimak yang Kinan tonton. Meski sering juga saya sambil “main” hp hehehe. Tapi tetep saya ngerti alur dan film yang ditonton Kinan. Setelahnya, kami jadi bisa berdiskusi dan bercerita ulang dari yang sudah ditonton. Saya jadi bisa membantu Kinan mengingatkan hal-hal yang telewat, misalnya.

Terkadang saya juga menemui tayangan anak-anak di channel anak-anak yang seringkali menampilkan nilai-nilai yang cukup mengganggu dan membingungkan menurut saya (bagi anak seumuran Kinan, hampir 3 tahun). Sebagai contoh sederhana misalnya tokoh Swiper dalam film Dora The Explorer. Swiper adalah serigala pencuri. Yang selalu saya tekankan adalah mencuri itu tidak baik, itu bukan hal yang patut ditiru, dan sebagainya. Meski di samping itu semua, banyak pelajaran yang bisa diambil dari tayangan tersebut. Misalnya berhitung, saling membantu teman, kemampuan bahasa, dan sebagainya. Namun tetap saja tayangan sesederhana itu juga harus dengan pendampingan orang tua.

 

Alternatif Aktivitas Anak

Saya berusaha menempatkan diri di posisi Kinan. Kalau tv, yang belakangan jadi sumber hiburannya hilang, lalu pasti jadi gabut. Kemudian saya berusaha untuk selalu memprioritaskan Kinan. Sebelum saya melakukan aktivitas domestik, saya mengajak dan menemani Kinan bermain dulu. Soal masak bisa lah keluar sebentar jajan berdua. Mandi saya bisa mandi belakangan. Menyapu dan mengepel bisa nanti dulu. Mencuci dan setrika, masuk laundry atau ditunda sebentar juga masih bisa.

Saya menyiapkan beberapa aktivitas setiap hari, dari yang ringan, seperti baca buku, bermain puzzle, lego, role play, hingga aktivitas yang butuh persiapan semacam aktivitas montessori (yang juga sering saya share di instagram saya). Saya berusaha melibatkan Kinan di pekerjaan yang sederhana. Membantu saya memasak, ikut menyiram tanaman, membantu membereskan rumah, misalnya. Saya ajak Kinan untuk merasa bahwa aktivitas ini jauh lebih seru daripada “cuma” duduk dan menonton tv.

Beberapa aktivitas main Kinan

 

Screen Time

Setelah kurang lebih 10-11 hari Kinan tanpa tv. Saya mencoba menerapkan aturan dengan perjanjian bersama Kinan soal waktu menonton tv. Screen time Kinan adalah 1 jam per hari. Saya sempat mencoba membaginya, 30 menit di siang hari dan 30 menit setelah ayah Kinan pulang kerja. Kemarin saya coba satukan hanya setelah ayah pulang kerja saja dan cukup terkontrol.

Untuk penggunaan handphone, menonton youtube, Kinan lebih dulu terkontrol dan lebih mudah dibanding tv. Saya lupa kapan tepatnya tapi saya sudah membuat aturan dan Alhamdulillah ditaati oleh Kinan. Menonton youtube hanya dengan hp ayah atau hp burung (tablet yang casenya gambar burung), itu juga hanya boleh sekitar 15-20 menit. Karena Kinan belum paham dengan konsep jarum jam, saya gunakan alarm hp untuk mengatur waktu.

 


 

Sejauh ini saya merasakan lebih banyak manfaat setelah menerapkan screen time pada Kinan (terutama tv). Kinan kembali kooperatif, kembali lebih mendengarkan dan lebih mudah bekerja sama. Beberapa teman di instagram menyebutkan bahwa sekolah bisa jadi salah satu alternatif untuk mengalihkan anak dari kecanduan tv dan gadget. Tapi tetap ya kembali lagi pada sekolah dan masing-masing orang tua soal penanganan gadget dan tv ini.

Saya paham bahwa anak-anak seusia Kinan adalah generasi milenial. Mereka dikerumuni dengan teknologi di era digital ini. Menurut saya pribadi, mengurung dan menjauhkan mereka dari teknologi bukan satu-satunya solusi. Saya lebih memilih untuk mengenalkan dan memberi pemahaman pada Kinan mengenai manfaat dan fungsi dari gadget. Gadget bisa sebagai hiburan, alat komunikasi, sumber informasi, dan juga sebagai alat edukasi. Jadi, Kinan bisa mengerti dan lebih bijak dalam penggunaannya kelak. Toh saya juga tidak akan bisa selalu mengawasi Kinan.

Tapi semua kembali lagi pada pilihan masing-masing. Setiap orang tua tentu ingin yang terbaik bagi anak-anaknya. Semua yang dilakukan tentu ada alasan tersendiri. Dalam pola pengasuhan tidak ada yang paling benar maupun salah. Semua kembali pada karakter anak dan orangtuanya.

Love, KY

 

Sumber bacaan:

Membesarkan Anak Hebat dengan Metode Montessori, Penulis Tim Seldin yayasan Montessori, penerbit PT. Grafika Multi Warna, 2011

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *