Mamaibuk Sharing Anything,  Mamaibuk's Thoughts,  MamaibukKnowsBest,  Parenting

Parenting: Tentang I Message

Beberapa waktu lalu, waktu membahas soal tantrum (klik di sini) saya menyinggung sedikit mengenai I Message. Dari story instagram yang saya share sebelumnya juga ada beberapa teman yang belum mengerti soal I Message, atau ada yang sudah melakukan namun belum memahami soal I Message (seperti saya yang sudah praktekin tapi nggak tau ada istilah ini sebelumnya hehe)


Saya pertama kali mendengar istilah I Message dari mba Ayu Kinanti (Psikolog), sewaktu kulwapp bulan Desember tahun lalu yang diselenggarakan oleh Wiloka Workshop. Kayaknya telat banget baru bikin tulisan sekarang, tapi tetep nekat karena takut kelupaan dan saya rasa ini topik yang menarik, jadi saya kepengen banget sharing soal ini di blog hehe.

Masih berkaitan soal tantrum, yang kita perlu ketahui adalah mengenai perkembangan emosi bayi sesuai dengan usianya.

Dengan mengetahui hal ini, diharapkan kita juga dapat memahami sejauh mana kemampuan bayi kita, sehingga tidak terlalu tinggi berekspektasi, atau kebingungan apakah ada hambatan komunikasi kita dengan si kecil atau memang sedang dalam tahapan tertentu. Pemahaman semacam ini, bagi saya sendiri cukup membantu, sehingga saya juga bisa mengikuti setiap tahapan perkembangan Kinan, baik dari segi fisik, bahasa, kognitif, dan sosial emosional.

Misalnya saja, ketika menghadapi anak 2 tahun yang kerap kali mengekspresikan marah dengan membanting dan memukul, atau sering menunjukkan perilaku menolak dan berkata “tidak”, perilaku seperti itu sebenarnya sesuai dengan tahapan perkembangan sosial emosional pada anak seumurannya. Hal ini juga akan membaik seiring dengan perkembangan dan usianya. Namun, juga tetap harus diarahkan dan di-sounding dengan baik, dan bagi saya, I Message menjadi salah satu cara yang cukup efektif untuk berkomunikasi dengan Kinan.

I Message atau pesan “saya” adalah metode komunikasi yang lebih fokus pada perasaan, pikir, dan keinginan si pemberi pesan (dalam hal ini kita, orang tua). Dalam kaitannya dengan metode komunikasi antara orang tua dan anak, metode ini digunakan orang tua untuk memberi tahu anak apa yang dirasakan orang tua mengenai situasi atau kejadian tertentu, dengan menggunakan kalimat yang berfokus pada saya, atau mengenai perasaan orang tua.

Bisa dikatakan, metode ini lebih menekankan perasaan dan kepedulian orang tua, terhadap perilaku sang anak, sehingga anak dapat belajar bahwa setiap perilaku mempunyai akibat terhadap orang lain.

Dalam materi yang disampaikan mba Ayu Kinanti, terdapat EMPAT kata kunci yang sering digunakan dalam metode I Message, yaitu

  • Ayah/Ibu merasa … — sebutkan perasaan yang sedang kita alami saat itu
  • Ketika/Jika … — beritahukan pada anak apa yang menyebabkan kita merasakan hal itu
  • Karena …– sampaikan alasannya
  • Ayah/Ibu ingin … — beritahu apa yang sebaiknya anak kita lakukan, atau harapan perilaku anak

Bingung nggak dengan penjelasannya? Mungkin sedikit contoh bisa membuat lebih jelas ya jadi semakin kebayang penerapannya. Berikut beberapa contoh dari praktek I Message dengan kata kunci di atas, yang juga saya sering lakukan pada Kinan.

“Kak, Ibu sedih sekali kalau kakak nggak bereskan mainan Kinan. Karena kalau berantakan, mainannya bisa hilang, dan nggak enak dilihat, kan? Belum lagi kalau keinjak, bisa sakit sekali kakinya.”

 

“Ibu khawatir sekali kalau kakak main lari-lari di jalan seperti tadi, itu berbahaya sekali soalnya, Kak. Kalau ada motor atau mobil lewat bisa bahaya. Ibu nggak mau kakak sampai jatuh atau sakit.”

Penyampaiannya harus dengan ekspresif, dan duduk sejajar sambil menatap mata Kinan, saya biasanya juga sambil memegang tangan, atau wajah Kinan, supaya Kinan lebih fokus dan merasa menjadi prioritas. saya sendiri juga harus fokus dan serius waktu ngomong.

Pic Source: Pinterest

 

I Message, menghubungkan perasaan pada konsekuensi, alih-alih pada pribadi anak. Jadi tidak menghakimi perilaku anak, lebih kepada memberikan pemahaman adanya konsekuensi dari perilaku sang anak. Menurut saya, hal ini juga dapat mengasah kepekaan dan rasa respek anak terhadap lingkungan dan orang di sekitarnya.

Manfaat dari praktek I Message seperti contoh di atas, yaitu:

  • Bertujuan supaya anak menangkap maksud kita. Karena terkadang kita merasa khawatir, namun emosi yang keluar justru dianggap sebagai “marah” oleh anak kita.
  • Anak belajar memahami konsekuensi dari perilakunya. Hal ini membuat anak jadi berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan suatu hal.
  • Anak belajar memahami kondisi dan perasaan orang lain (mengasah empati dan tepa slira)
  • Anak merasa dihargai. Karena tidak merasa dihakimi, dituduh, dan disalahkan.

Saya sendiri masih mempraktekkan metode ini, karena selain sudah terbiasa, saya juga merasakan manfaatnya ketika jadi jauh merasa jadi lebih mudah ketika berbicara dengan Kinan.

Pic Source: http://grammarofgrief.tumblr.com/page/6

Lama-lama, semakin Kinan gede, jadi kayak ngobrol sama teman, Kinan juga sering menyebut saya sebagai teman atau sahabatnya. *terharu

 

Love, KY

3 Comments

Tinggalkan Balasan ke inunrzh Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *