Mamaibuk Sharing Anything,  Mamaibuk's Thoughts,  Parenting

Parenting: Tentang Memukul Teman di Sekolah

Halo halo, sudah lama nggak posting tanpa sponsor x)

Mumpung lagi minggu tenang, duduk di depan layar sambil akhirnya menyelesaikan postingan ini. Masih seputar Kinan, kami, dan sekolah Kinan.


Mungkin ada yang masih ingat sekitar akhir bulan September atau awal Oktober lalu, Kinan mulai trial di playgroup dan kemudian resmi mendaftar di sekolah tersebut. Di awal sekolah, sempat beberapa kali “kena pukul” temannya. Waktu itu, mungkin karena anak pertama, dan pertama menyekolahkan anak juga, kemudian pertama kali bagi kami melepas Kinan ke “dunia luar”, dan pertama-pertama yang lainnya, jadi rasanya emosi, nggak terima, dan kesel juga.

Waktu itu saya sempat membuat story di instagram dan mendapat feedback beragam dari teman-teman. Ada yang sesama orang tua, ada dari psikolog, guru PAUD, guru SD juga. Responnya juga beragam, dari yang mendukung untuk membuat Kinan berani membalas, ada juga yang menyarankan untuk menyerahkan pada gurunya supaya dibimbing oleh guru di sekolah. Saya gimana? Ya seperti biasa, galau lah! Menyarankan untuk diam dan nggak balik mukul, takutny Kinan semakin ditindas dan nggak berani speak up melawan, takutnya kebawa sampai gede, jadi korban bullying (Naudzubillah). Memberi ide untuk balas pukul dan melawan juga khawatir kebablasan. Saya belum paham pola pikir dan perkembangan sosio emosional Kinan waktu itu. Jadi pertama saya sempat minta Kinan untuk membalas kalau dipukul duluan. Tapi, jangan sampai Kinan yang memukul temannya duluan.

“Kalau Kinan dipukul temannya, boleh Kinan balas. Nanti ibu akan belain Kinan. Tapi, Kinan nggak boleh pukul temannya duluan.”

 

 

 

Waktu itu, kalimat itu yang saya sampaikan ke Kinan. Ayahnya sedikit mengernyitkan dahi mendengarnya, tapi cuma diam saja. Setelahnya baru bilang setengah berbisik:

Bukannya kita tuh nggak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan juga ya?

 

Kurang lebih seperti itu, dan cukup bikin saya mak jleb! WOW apa yang baru saja saya ajarkan ke Kinan. Ngajarin buat jadi jahat? Sungguh ibu yang kejaaaaaaam T____T

Meski akhirnya kami sepakat untuk membiarkan Kinan dengan jawaban saya di awal tadi, boleh balas, tapi no pukul duluan.

 

 

Sampai akhirnya,

Menjelang penerimaan rapor, yang bertepatan dengan akhir tahun yang kebetulan ayah Kinan cukup sibuk dan banyak acara, juga saya yang masih penyesuaian dengan rutinitas baru. Saya mendapat laporan bahwa Kinan jadi suka memukul temannya. Setiap hari. Bahkan bisa dalam sehari Kinan berhasil membuat beberapa temannya menangis karena kena pukul. Tentu jadi riuh dan merepotkan guru-gurunya. Ketika saya coba konfirmasi, alasannya macam-macam, dan biasanya “cuma” sepele. Tapi tangannya seolah refleks memukul, bahkan kata gurunya, Kinan memukul dengan tangan kiri.

Ternyata, rasanya jauh lebih tidak nyaman ketika Kinan menyakiti (memukul) anak lain. Daripada ketika Kinan yang disakiti (dipukul).

 

Rasanya beneran tidak nyaman, nggak enak lah ya sama anak orang. Saya juga nggak mau dimaklumi terus. Maklum kan masih kecil; atau Maklum lah kan namanya juga anak-anak. Lalu, mau sampai kapan dimaklumi? Ketika sekiranya hal tersebut sudah melanggar aturan, prinsip atau value keluarga kami, saya selalu berusaha meluruskan. Buat saya dan suami, tidak ada yaudah dimaklumi saja, takutnya keterusan :(((

Namun saya masih bersyukur dan merasa beruntung karena Kinan tetap bercerita semuanya dengan jujur pada saya. Setiap hari juga saya selalu sounding untuk tidak memukul temannya lagi. Tapi mungkin itu saja tidak cukup. Saya merasa harus mencari tahu penyebabnya. Bisa jadi semacam bentuk protes Kinan pada kami. Kemudian saya mencoba quality time dengan Kinan, lebih sering menemani tanpa disambi-sambi.

Terus, mulai lagi sekolah setelah libur semester kan, Alhamdulillah kayak mulai dari nol lagi. Saya dan ayah Kinan sepakat meminta Kinan untuk minta bantuan gurunya ketika ada teman yang mulai memukul atau membuat Kinan tidak nyaman. Sampai sekarang masih terus cerita kalau di sekolah ada saja teman yang memukul atau kejadian lain, tapi Alhamdulillah belum mendapat cerita kalau Kinan balik memukul. Hari ini rencananya mau konfirmasi ke gurunya juga hehe.

Dan ternyata, rasanya jauh lebih tenang dan nyaman seperti ini, jangan sampai lah kita ini menyakiti orang lain. Tapi jangan juga terlalu mengalah sampai mengesampingkan perasaan sendiri. Nah lo, ribet kan? Yah namanya juga hidup, sis :))))))

 

Love, KY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *