Review,  Travel

Wisata Edukatif Ramah Anak di Agrowisata Bhumi Merapi

Hari Sabtu (12/5) kemarin, kami berniat untuk quality time tapi yang sekaligus dapat menambah pengalaman  dan pengetahuan Kinan. Kami mencari tempat wisata edukatif yang ramah anak, dan tidak terlalu jauh dari rumah kami. Pagi harinya, saya membuka instagram dan mencari akun @agrowisatabhumimerapi yang sejak lama sudah saya ikuti, dengan tujuan mencari kontak dan nomor telepon untuk konfirmasi, apakah ikut terdampak erupsi freaktik Merapi atau sudah buka dan beroperasi seperti biasa. Beruntung saya sempat membuka beberapa postingan terakhir, dan menyebutkan kalau hari Sabtu Agrowisata Bhumi Merapi sudah buka seperti biasa, setelah hari Jumat (11/5) tutup karena terdampak hujan abu dari Gunung Merapi.

Kami langsung bersiap dan berangkat ke Agrowisata Bhumi Merapi, yang terletak di Jl. Kaliurang km 20. Lets go! Di jalan, Kinan sudah excited karena seperti biasa, kami debriefing Kinan dulu sebelum melakukan perjalanan kemana pun. Tapi, berkali-kali Kinan bilang kalau sudah ngantuk. Baiiikkkk, saya ikhlaskan Kinan tidur lagi di perjalanan meski baru 10 menit berlalu. Karena destinasi kali ini akan banyak berinteraksi dengan binatang, Kinan sangat sangaaaaat bersemangat. Saya? Berusaha tidak berekspektasi, takutnya kecewa karena (misalnya) ternyata Kinan malah cranky, rewel, tantrum, dan lain sebagainya. Tapi saya berusaha tidak suudzon juga. Lempeng saja, berbekal bismillah dan kamera, kami sampai setelah sekitar 45 menit perjalanan.

Lokasi Agrowisata Bhumi Merapi sangat mudah dijangkau. Setelah sampai di Jl. Kaliurang km 20, Ayah Kinan memperlambat laju kendaraan, kemudian terlihat papan petunjuk arah Agrowisata Bhumi Merapi belok ke kanan (kami datang dari arah selatan). Setelah belok, tidak sampai 100 meter terdapat beberapa banner kecil petunjuk arah kemudian belok ke kiri (utara), dan sampailah kami di Agrowisata Bhumi Merapi.

Kami sampai sekitar pukul 10.00 wib sedangkan Agrowisata Bhumi Merapi sudah mulai buka mulai 8.30-17.00. Lahan parkir termasuk luas dan teduh, dengan beberapa pohon di sana. Dan lucky us, saat kami datang, baru ada kami, dan satu keluarga kecil juga yang datang bersama balita. Sisa hujan abu kemarin masih terasa, beberapa bangku di parkiran masih terasa debu-debu Merapi, sesekali saya merasakan debu yang jatuh dari daun-daun yang tertiup angin. Selebihnya, Alhamdulillah kami sama sekali tidak terganggu. Kinan dibangunkan begitu kami berhenti di parkiran, dan Alhamdulillah bangun tanpa drama, malah Kinan excited banget, langsung melek dan setengah teriak: lihat Dino, lihat Dino, ayoo Ayaaah! Wait, what? Dino? Kemudian mendapat penjelasan dari Ayah Kinan soal ajakan Kinan ini. Case Closed.

Kami segera menuju pintu masuk dan penjualan tiket Agrowisata Bhumi Merapi, untuk anak di bawah 3 tahun free entry, jadi kami cukup membeli 2 tiket seharga @20.000,-. Harga tiketnya sangat terjangkau, dan masih mendapat segelas susu yang ditukar dengan tiket masuk tadi, jangan hilang atau dibuang ya tiketnya! Tempat penukarannya di Warung Bakaran, sebelum naik ke area Kambing Etawa, Kuda, dan rumah Hobbit.

1. Dunia Kelinci dan Umbaran Kelinci

Area pertama setelah melewati pintu masuk adalah Dunia Kelinci. Di sini, kelinci ada di dalam kandang terpisah-pisah, kelar dari situ kami menuju ke Umbaran Kelinci. Di area ini, pengunjung bebas berinteraksi dengan kelinci yang diumbar (dilepaskan). Beberapa kelinci bahkan terlihat sudah sangat terbiasa dengan kehadiran pengunjung, dan malah datang menghampiri kami, mungkin minta makan, ya. Saya kemudian keluar dari umbaran dan mencari petugas untuk bertanya tempat membeli makan kelinci. Beruntung saya diberi seikat kangkung, dan gratis! “sudah bawa aja, Bu.” Sederhana, tapi bikin happy Kinan bisa ngasih makan kelinci langsung. Mungkin karena kami datang terlalu awal dan beberapa pos belum siap karena saya lihat sebagian masih sibuk membersihkan (sisa abu?) di beberapa area.

Area Umbaran Kelinci

2. Area Berkuda

Setelah cukup lama di area umbaran kelinci, kami keluar dan menuju ke arah area kuda, dan kambing Etawa. Masih tanpa antri, kami membeli tiket untuk menunggang kuda seharga Rp 20.000,- untuk satu penunggang, lagi-lagi Kinan tidak dianggap, bahkan separuh pun tidak. Kami duduk sebentar di shelter transit menunggu kuda dipersiapkan. Penting diperhatikan di area ini, jangan sampai berdiri di belakang kuda, ya! Setelah berkeliling menunggang kuda, (saya menunggu di shelter) Kinan kelihatan makin happy, dan berulang bilang: “ibuuk Kinan naik unicorn! Kinan suka sekali! Alhamdu..lillah :)))”

Happy Kinan naik unicorn :))

3. Rumah Hobbit

Dari area kuda, kami menuju ke rumah Hobbit. Di Agrowisata Bhumi Merapi, ada beberapa spot foto menarik, salah satunya di rumah Hobbit ini. Ada dua rumah mini yang gemes dan bikin Kinan merasa menemukan ini size rumah yang pas banget buat dia haha

her happy face! 😍
Rumah Hobbit
Asalamualaikum, toktoktok

4. Area Merpati dan Kambing Etawa

Kemudian, terdapat semacam area terbuka dengan air mancur dan beberapa bangku yang di dekatnya ada rumah-rumah burung merpati. Di area ini kita dilarang mengejar dan menangkap burung-burung merpati, ya. Salah satu spot favorit saya, karena lumayan luas, dan lega karena pemandangan lepas nyaman sekali untuk “umbaran” Kinan x). Di seberangnya, ada dua kandang yang cukup luas, area domba Merino dan anakan kambing Etawa. Nah, di sini kita bisa membeli susu dalam dot kecil untuk anakan kambing Etawa. Masuk ke dalam kandang pun boleh, tapi kami memilih untuk dari luar saja, karena pasti anak-anak kambing ini akan berebut minum dari dot. Harga dot susunya? Cukup Rp 5.000,- saja sudah bisa dapat satu botol dot berisi susu untuk anak-anak kambing ini. Kinan sampai 3x refill, ketagihan ngasih minum anak kambing :))) Di samping area kambing, masih ada area rusa, tapi kami cukup melihat dari semacam pondokan di atasnya.

5. Warung Bakaran

Setelah cukup puas main-main, kami menuju ke Warung Bakaran untuk menukar tiket dengan segelas susu pink, yang belakangan setelah saya konfirmasi ke petugas Agrowisata Bhumi Merapi, ternyata itu adalah susu kambing. Kinan doyan, mungkin karena sama sekali tidak amis, ya. Kalau kata Ayah Kinan, rasanya mirip susu Ult*a strawberry, bhaikkkk :))) di Warung Bakaran, tersedia beberapa menu snack dan minuman, tapi kami memutuskan untuk makan berat di luar karena sudah menjelang waktu makan siang.

Susu pink, yang ternyata susu kambing

6. Area Reptil

Menuju pintu keluar, kami sempat mampir ke area reptil, ada area umbaran Kura-kura dan diperbolehkan berinteraksi langsung. Tapi kami cuma melihat dari luar pagar dan sedikit mengobrol dengan petugas di area reptil, karena kami agak insecure dengan kehadiran beberapa ular di sana. Yaiyalah area reptil, kok. Mendapat penjelasan dari pertanyaan penasaran soal ular, kata mas petugasnya, ular ini memang harus dibiasakan dijinakkan sedari bayi banget. Biasanya waktu bayi gitu ular akan menggigit, dan pasti menggigit. Biasanya menggigit jempol atau jari si pawangnya. Tapiii, katanya sih enggak sakit, karena gigi taringnya masih lunak. Bodo amaaat maas, tetep aja judulnya digigit ular, mau bayi, remaja, atau dewasa, sama ajaaaaa -_-

Satu hal yang menarik lagi, ketika melewati kandang kambing, saya mengamati ternyata di bagian atas ada papan identitas masing-masing kambing, termasuk asal, usia dan nama kambing! Nama-nama kambing di sini (mungkin) di ambil dari wayang, tapi semua diberi nama, wow! X)

Yang nggak mau saya lewatkan, yaitu souvenir atau merchandise, sebagai kenang-kenangan pernah berkunjung ke Agrowisata Bhumi Merapi. Namun, sayangnya menurut saya, jenis souvenir dan merchandise yang disediakan kurang beragam. Saya cuma mendapati beberapa kaos dewasa dan anak saja. Pernak-pernik seperti magnet, stiker, gantungan kunci dan sejenisnya belum ada di sini. Semoga ke depan Agrowisata Bhumi Merapi menambah pilihan untuk souvenir baik dari desain maupun jenisnya 🙂 Ah ya satu lagi, awalnya kami juga agak bingung bagaimana alur perjalanan di Agrowisata Bhumi Merapi. Mungkin agar lebih memudahkan pengunjung, bisa disediakan map area Agrowisata Bhumi Merapi, bisa berupa papan besar, banner, atau flyer di dekat pintu masuk, sehingga memudahkan pengunjung melihat atraksi yang disediakan di Agrowisata Bhumi Merapi.

Berkunjung ke Agrowisata Bhumi Merapi lagi? Ah tentu, kami berencana datang ke sini lagi, masih penasaran dengan area outbond dan susur gua 😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *