Review,  Travel

Weekend Gateaway: Babysitting di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah

Libur lebaran tahun ini sedikit berbeda. Meskipun libur para pegawai cukup panjang, tapi Keluarga pak Khofif tidak ikut mudik ke Banyuwangi, dan tidak pula ikut acara keluarga di Kediri. Kami banyak di rumah atau berkunjung ke rumah kerabat atau meluangkan waktu bertemu dengan teman lama. Sebagai gong dari liburan lebaran dan dalam rangka merayakan waktu berkumpul dengan keluarga, kemudian kami sekeluarga besar, merencanakan liburan pendek dan tidak terlalu jauh, yang penting ngumpul, happy, dan foto-foto! Hehe

Tahun ini kami memutuskan untuk menginap di Borobudur, dan menghabiskan waktu di sana. Kenapa Borobudur? Karena lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah, kami belum pernah bareng-bareng ke sana, dan (tadinya) berharap lokasi ini cocok dan ramah anak. Yah, karena kami liburan bersama 4 keluarga dengan 2 kids, 3 toodler, dan 1 baby. Rame, kan? X)

b042e069-1975-48a1-8761-ae8d4a101249
#gengmukasama

The Hotel

Long story short, kami memutuskan untuk menginap di Shankara Borobudur. Lokasinya strategis banget banget banget! Tepat di pinggir jalan utama menuju Candi Borobudur. Lokasi tepatnya ada di Jalan Balaputradewa No.18, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia, 56553.

Shankara Hotel hanya berjarak sekitar 1 km dari Candi Borobudur. Fasilitas seperti ATM, dan Minimarket juga tidak jauh dari hotel. Bisa dicapai dengan berjalan kaki, tapi saya tetep minta diantar naik mobil waktu harus keluar ke ATM dan minimarket, karena sudah merasa kuota jalan kaki sudah habis buat tracking di bukit Rhema sore harinya :))

Balik lagi cerita soal hotelnya. Room rate Shankara Hotel mulai Rp.720.000 – Rp 900.000 /room/night. Saya pribadi, suka takut berekspektasi. Jadi sebelumnya saya iya iya aja enggak ikut ngecek review dan fasilitas hotelnya. Perkara ini, kami serahkan pada tim bapak-bapak. Kami baru check in sore hari, sekitar habis Ashar. Kami enggak perlu menunggu lama, kamar sudah siap. Beberapa staff sigap membantu membawakan koper-koper dari halaman parkir ke lobby. Begitu masuk lobby, langsung disambut outdoor pool yang dikelilingi kamar dan sawah yang hijau gitu, bikin pengen langsung nyebur lol.

Yang bikin semakin nyaman, waktu itu hotel tidak terlalu ramai, atau mungkin yang lain masih sibuk berkeliling ke tempat-tempat wisata, ya.  Jadi berasa private swimming pool hehe.

Biasanya saya kurang nyaman berenang di outdoor pool semacam ini. Namun, karena ada dinding pagar pembatas di tiap room yang menghadap ke kolam, jadi merasa “enggak jadi tontonan” walau berenang sendirian. Kids pool seolah “menyatu” karena pembatas untuk menandai perbedaan tinggi kedalaman menggunakan sekat kaca (?) tebal jadi tidak terlihat dari luar kolam.

c17dc15f-2226-4a68-b971-9a7cf0a3f3e1
Outdoor pool waktu malam hari, siangnya nggak sempat foto krn semua ikut renang x)

9dd74d66-c446-45c6-b8ae-5a173f34f012

Di traveloka, Shankara Hotel mendapat impressive 8,9/10. Dari saya mendapat 9,6/10! Nice place, clean, and service is good. Well, saya setuju dengan ulasan tersebut. Staff sangat ramah, kamar dan kamar mandi bersih, serta menu sarapan standar hotel, lah ya. Sereal, pancake, bubur ayam, omelette, nasi goreng, mie goreng, yoghurt, original juice, infused water, teh, kopi, iya standar kok rasanya pun not bad. Ohya, untuk sarapan tambahan (di luar kupon breakfast) hanya perlu membayar Rp. 30.000 untuk di atas usia 7 tahun. Meskipun bukan kategori hotel yang mewah banget, namun suasananya homy dan sangat nyaman.

Ada satu lagi fasilitas yang disediakan di Shankara Hotel, yaitu sepeda kuno yang diparkir di depan lobby hotel. Akan tetapi, kami tidak mencoba bersepeda karena saya lupa membawa gendongan andalan buat Kinan seperti bersepeda waktu staycation beberapa waktu lalu. Dan lagi, kalau bersepeda sepertinya harus keluar dari lingkungan hotel, karena sekilas dari yang saya lihat, tidak ada space atau jalan khusus untuk bersepeda di dalam lingkungan hotel.

The Destination

Mau dibilang destinasi wisata, kurang pas juga kayaknya. Karena kami memang enggak fokus buat eksplore tempat wisata. Lebih lagi semua harus fleksibel menyesuaikan anak-anak dan 4 keluarga. Yang penting perut kenyang sih, jadi memang kami mempir ke beberapa balkondes di Borbudur untuk mampir makan, nyemil, dan istirahat sholat.

**Disclaimer : Beberapa foto di lokasi ini saya ambil dari website Otten Magazine karena repot babysitting jadi ada beberapa lokasi yang bahkan saya tidak sempat mengambil foto. Ada juga beberapa foto yang didapat dari grup keluarga, yang berati dari hasil foto kakak-kakak ipar hehe ijin dulu.

1. Waroeng Kopi Borobudur

Check point pertama kami di Waroeng Kopi Borobudur. Ini adalah salah satu balkondes yang berada di Borobudur. Seperti balkondes lainnya, bangunan etnik dengan joglo dan ornamen jawa. Menu makanan yang disajikan cukup beragam dan disajikan secara prasmanan. Mangut lele, Ayam goreng, sayur asam, dan menu khas jawa lainnya. Yang ingin gorengan, ada juga mendoan dan tahu isi yang masih hangat cukup Rp 15.000/porsi isi 5 tahu/mendoan.

Di Waroeng Kopi Borobudur juga tersedia beberapa delman untuk mengantarkan para wisatawan berkeliling. Tarifnya Rp 150.000 untuk satu kali putaran hingga ke Candi Pawon, durasi perjalanan sekitar 30 menit, dan delman dapat diisi 4-5 orang.

Foto di atas diambil dari https://majalah.ottencoffee.co.id/

2. Gereja Ayam (Bukit Rhema)

Bisa dibilang lokasi ini “terlihat” dan jadi salah satu destinasi favorit para wisatawan sejak kemunculannya di film AADC2.  Iya, ada adegan Rangga mengajak  Cinta ke tempat “rahasia” kemudian menikmati sunrise dari mahkota Gereja Ayam ini.

Untuk dapat sampai di Gereja Ayam, kita harus tracking dulu sekitar 200 m dari tempat parkir ke atas bukit. Sebelum mulai “mendaki”, kita menuju loket  masuk, dengan harga tiket Rp 15.000/orang. Jangan lupa tetap mnyimpat tiket masuknya, ya karena bisa ditukar dengan singkong goreng (yang lebih mirip keripik menurut saya). Penukarannya di cafe dalam gedung Gereja Ayam.

“Mbak, ini dapet singkong? Nggak minum aja mbak? Kan habis naik haus?”
-mbaknya senyum-
“Oh, bener ya mbak, dikasih singkong aja. Habis seret kan beli minum sendiri haha.”
-senyum mbaknya mulai pudar-

Jalan yang disediakan sudah cukup baik, dengan anak tangga yang andai dan pegangan di sebelah kanan. Sebagian jalan lain dibiarkan tidak berundak-undak, sebagai akses kendaraan yang naik atau turun. Sebenarnya bagi yang tidak ingin mendaki dengan berjalan kaki, dapat naik dengan mobil atau jeep yang disediakan dengan membayar Rp 7.000/orang satu kali jalan.

abb1ac88-b519-41bb-bbcc-abf406ced55c
Hosh hosh

Sampai di atas, terdapat beberapa kios warung kecil yang menyediakan minuman kemasan, air kelapa muda dan makanan ringan juga. Jalan melewati beberapa kios, mulai terlihat bangunan Gereja Ayam yang menjulang. Sebenarnya saya pernah dengar kalau sebenarnya bangunan ini bukan ayam, tapi merpati. Tapi karena masih satu famili dari unggas dan memang mirip karena ada “mahkota” yang mungkin makin mirip seperti jengger ayam jadi lebih terkenal sebagai ayam.

6263f2f1-ceec-43b5-a650-ab1105fc1d9f

Sebelum masuk gedung, kami disambut beberapa petugas untuk memeriksa tiket sambil memberi penjelasan singkat mengenai gedung ini. Informasi yang saya dapat yaitu bahwa memang benar gedung ini sebenarnya adalah berbentuk burung merpati, bukan ayamm sepertii yang masyarakat umum sering menyebutnya. Dan satu lagi, bangunan tersbut bukanlah gereja, akan tetapi  adalah Rumah Doa Segala Bangsa. Dalam bangunan tersebut juga terdapat mushola dan rumah doa serta wall of hope di lantai bawah. Sejarah lebih lengkapnya dicantumkan di papan pameran dalam gedung.

Untuk dapat mencapai mahkota, bagian paling atas bangunan ini, kami harus naik tangga beberapa lantai, saya lupa tepatnya 3 atau 4 lantai sebelum tangga mahkota. Tangga di setiap lantai cukup sempit, jadi harus sabar dan bergantian dengan wisatawan lain yang akan menuju arah sebaliknya. Sesampai di lantai sebelum mahkota, ada petugas yang mengatur wisatawan agar mengantri demi keselamatan bersama. Sebab bagian mahkota hanya dapat menampung maksimal 10-15 orang, menurut saya bahkan untuk 5 orang saja sudah penuh T.T

18bb4924-e254-4268-a2c4-acf982db0707

Sampai di atas, menghela nafas dulu sambil melihat sekeliling, kemudian foto-foto. Jangan kelamaan gantian yang lain, ya! Hehe

3. Balkondes Wanurejo

Setelah check out dari hotel, kami menuju ke Balkondes Wanurejo. Balkondes ini disponsori oleh BNI, mirip dengan balkondes lain yang menggunakan joglo sebagai bangunan utamanya. Di sini, kami hanya ngemil dan pesan minuman karena siang itu panasnya luar biasa.

saya seperti biasa pesan es teh, tapi es timun di sini juga recommended! Walau sirupnya pakai sirup melon yang menurut saya jadi agak mengganggu x)

Cocok buat yang mau “mengumbar” anak-anak, karena tempatnya luas dan lapang. Hanya karena panasnya nggak biasa jadi Kinan sedikit saya rem lari-larian dulu, maunya masih mau nyanyi-nyanyi di panggung tapi duh panasnya bikin pusing.

0594f525-63bb-4e43-9b44-20dfe4f35054-1
Anak gadis mulai cranky

4. Junk Yard

Junk yard ini lokasinya persis di sebelah Balkondes Wanurejo. HTM Rp 15.000 untuk weekday, dan Rp 20.000 untuk weekend. Kami sempat mengintip bagian dalam “hanya” berisi mobil-mobil kuno antik dan instagram-able, memang di dalam terlihat orang-orang sibuk berfoto sana sini.

Tapi mengingat cuaca panas banget, kami memilih untuk tidak masuk ke sana, dan ngadem di pendopo Balkondes Wanurejo.

Kami kemudian memutuskan untuk naik delman kecil yang ada di dekat Junk Yard. Atraksi yang lebih menghibur bagi anak-anak ini cukup murah meriah kami sudah bisa berkeliling di sekitar balkondes Wanurejo. Dengan tarif Rp 30.000 short trip (1x putaran) dan Rp 50.000 long trip (2x putaran).

Saat berkeliling juga masih terlihat pembangunan Homestay Wanurejo yang belum selesai digarap. Jalan yang kami lalui juga masih berupa tanah bergelombang. Dari keterangan bapak kusir, memang balkondes ini belum sepenuhnya selesai dibangun. Bahkan track untuk jalur delman juga sebetulnya belum rampung, jadi bapak-bapak kusir ini semacam membuat jalurnya sendiri.

Tips dari bapak kusir, waktu yang paling tepat untuk berkunjung ke Junk Yard adalah sore hari, cahaya terang namun tidak sepanas ini. Bhaik, Pak terima kasih.

7099bbc7-71cc-42c1-a7df-82b8035efc7a-2
Naik delman keliling Balkondes Wanurejo

5. Amata Restaurant

Last but not least, pemberhentian terakhir kami adalah makan siang di Amata Resto. Waktu itu udah masuk jam makan siang, semua mulai cranky dan belum menentukan tujuan makan siang, kemudian setelah berdiskusi singkat via telpon dengan rombongan di mobil lain, kami memutuskan untuk makan siang di Amata Resto. Awalnya saya agak ragu karena dari depan tampak sepi dan agak menjorok masuk ke dalam karena Restoran-nya berada di dalam halaman Resort yang agak menjorok masuk. Ternyata ini adalah hasil diskusi para bapak-bapak yang menemukan banyak yang merekomendasikan Amata Restaurant di Tripadvisor.

b7e77e9c-aec9-45be-98ee-86de3ecf8e0a
Pool side Amata Resto

9363316a-6058-4e10-8588-82c6d25bfacb

View dan suasanya sangat menyenangkan. Resto berada di dekat outdoor pool dengan nuansa etnik dan tradisional. Para pegawai cukup ramah dan murah senyum. Menu yang disajikan adalah masakan Indonesia dan masakan barat. Tongseng dan gado-gado pun ada di sini. Harga menu menurut saya bukan termasuk murah, namun worthy. Seingat saya minuman (ice tea) mulai Rp 15.000,- sedangkan untuk makanan bervariasi, mulai Rp 32.000,-.

————-

Weekend gateaway kali ini sekalian perpisahan dan berpamitan dengan separuh anggota #gengmukasama, yang harus kembali ke Cilegon setelah hampir 3 minggu main bareng. Yuk, nabung lagi untuk liburan selanjutnya 😉

love,ky

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *