KonMari Journey

Shokyuu Intensive Class Batch 2: Task 2

Task 2 – Shokyuu Intensive Class Batch 2 KonMariIndonesia.

Task 2 ini pada dasarnya masih berhubungan dengan sebelumnya (lihat di sini). Hanya saja lebih dipertajam dan dibuat lebih detail lagi. Serta untuk semakin memantabkan mindset berbenah untuk menyambut Tidying Festival mulai awal Agustus nanti.


Menjaga Mindset

Di Awal saya mengikuti Shokyuu, bahkan setelah saya berhasil mendaftar dan saya sangat excited hingga saya share di social media saya, ada saya teman dan kerabat yang “meremehkan” pilihan saya untuk ber-KonMari.

“Yakin mau KonMari-an?”

“Kamu beneran ikut KonMari?”

“Emang bisa?”

Dan kalimat-kalimat lain sejenis itu yang awalnya cukup menyurutkan niat saya. Belum lagi reaksi lain yang tidak disampaikan pada saya, hehe. Waktu itu saya kemudian membuka akun instagram @KonmariIndonesia dan melihat betapa bersih, rapi, lega dan menyenangkan melihat barang-barang yang tertata, dan spark joy di rumah.

Membayangkan saja saya bisa memikirkan banyak hal yang bisa saya lakukan dengan anak saya. Tanpa harus kerepotan dan menghabiskan waktu mencari barang-barang terlebih dulu. Memanfaatkan space yang ada di rumah mungil saya untuk anak saya bereksplorasi. Suasana rumah yang bersh, lapang, dan rapi serta dikelilingi barang spark joy juga akan sangat berpengaruh pada suasana hati saya, yang berarti juga berpengaruh pada tingkat kesabaran saya menghadapi aneka surprise ketika mengasuh toodler.

Ada satu hal yang tertinggal ketika memaparkan motivasi pada task 1 kemarin. Saya ingin berhasil dalam berbenah kali ini untuk membuktikan pada ibu saya, dan kemudian mempraktekan hal yang sama di rumah ibu saya. Orang tua saya sangat sulit merelakan atau “membuang” barang-barang. Alih-alih mengurangi barang yang sudah tidak spark joy, beliau memilih untuk membeli storage atau lemari lagi untuk menyimpan barang-barang tersebut. Alhasil rumah menjadi lebih penuh dan sesak.

Saya tidak dapat memaksa orang tua saya untuk merelakan barang-barang tersebut. Yang dapat saya lakukan adalah memberikan bukti dari hasil berbenah saya melalui Shokyuu Class ini. Bagi saya ini juga salah satu motivasi yang sangat kuat, selain saya melakukan ini untuk anak saya dan juga untuk diri saya sendiri.

Sekali lagi saya tuliskan dalam postingan ini, bahwa bagi saya, rumah bukanlah tempat untuk menimbun barang. Rumah adalah tempat kita pulang, merasa nyaman dan sudah sewajarnya berisi hal-hal spark joy.

Untuk itu, saya menjaga mindset dengan percaya diri bahwa saya harus berhasil, fokus dengan tujuan saya berbenah, dan positive thinking bahwa teman-teman, kerabat, dan saudara mendukung keputusan saya. Disiplin dan tidak menunda pekerjaan sekecil apapun, misalnya mengembalikan barang pada “rumah”nya tidak perlu ditunda, karena hal itu hanya membutuhkan waktu kurang dari 2 menit. Membayangkan waktu yang dihabiskan lebih lama ketika harus merapikan kembali setelah semuanya berantakan kembali. Saling support dengan suami dan menyamakan visi misi. Hal lain yang saya lakukan adalah mendokumentasikan before after tidying, sehingga terlihat perbedaannya, dan merasa kapok untuk kembali berantakan lagi.


My ideal lifestyle

Dari ideal lifestyle yang saya sebutkan pada task 1, terdapat beberapa hambatan dalam mewujudkannya. Untuk task 2 ini, saya akan menjelaskan hambatan di setiap poin, dan juga memberikan solusi untuk mengatasi hambatan tersebut. Ada juga beberapa tambahan yang belum saya tuliskan pada task 1.

1. Saya ingin tas yang biasa saya bawa bepergian isinya tertata rapi dan mudah menemukan barang yang saya butuhkan di dalamnya. Saya ingin setiap hari mengosongkan tas saya, mengeluarkan barang-barang di dalamnya dan meletakkan di suatu tempat khusus.

Kendalanya, rasa malas dan meremehkan part mengosongkan tas ini. Akhirnya seolah tiba-tiba saja tas dan dompet sudah penuh dengan aneka kertas dan “sampah”. Kartu dan uang berantakan, belum lagi kesulitan mencari sesuatu di dalam tas.

Solusinya, saya akan menyediakan tempat (bisa meja atau semacam keranjang kecil untuk menumpahkan isi tas saya setiap hari, sehingga memudahkan dalam memilih dan memilah mana yang harus saya buang dan yang harus saya simpan. Kemudian ketika akan bepergian juga memudahkan saya untuk memasukkan barang-barang tersebut ke dalam tas lagi.

 

2. Saya ingin isi dalam lemari, dan laci-laci tertata rapi sehingga tidak hanya terlihat rapi dari luar saja, namun juga rapi dan tertata di dalamnya.

Kendalanya, seringkali setelah menggunakan barang dari laci hanya asal dikembalikan ke dalam laci. Lama kelamaan isi dalam laci kembali jadi berantakan 🙁

Solusinya, membuat partisi atau membuat shadow board (meminjam istilah dari Hanashimasyou mbak Fikaullya). Jadi setiap barang mempunyai rumah masing-masing. Menghindari semua bercampur di dalam.

 

3. Saya ingin lebih sering dan rutin me time di rumah, yaitu dengan membaca buku, atau belajar watercolor dan handlettering. Menyimpan peralatan di tempat yang mudah dijangkau dan terlihat.

Kendalanya, waktu saya sering terasa pendek dan habis karena tidak terjadwal dalam beberes dan berbenah rumah. Semua dilakukan dengan tiba-tiba dan seringkali memakan banyak waktu, sehingga “kehabisan” waktu.

Solusinya, membuat jadwal sederhana untuk berberes rumah harian, mingguan, dan bulanan. Sehingga dapat meluangkan waktu untuk me time.

task 2_4
Contoh jadwal (Pic Source: Pinterest)

 

4. Saya ingin lebih banyak quality time dengan anak saya, membuat permainan-permainan sederhana dengan anak saya tanpa harus membuat printilan lain ikut berantakan, atau membuang waktu untuk mencari satu dua alat atau bahan yang saya akan gunakan.

Kendalanya, hampir serupa dengan poin no.3, saya sering merasa kehabisan waktu dan kelelahan karena tidak memiliki jadwal yang teratur.

Solusinya, membuat jadwal dan kurikulum sederhana untuk merencanakan aktivitas permainan bersama si kecil.

 

 

5. Saya ingin lebih sering memasak dan mencoba resep baru, serta dapat membuat bekal untuk suami saya dengan dapur dan isi kulkas yang tertata rapi dan menerapkan food preparation.

Kendalanya, saya sering kebingungan dengan menentukan menu, juga kondisi kulkas yang belum rapi membuat saya lebih lama dalam persiapan memasak harian. Terutama karena suami yang harus berangkat subuh, saya seringkali menyerah dan memasak seadanya yang cepat praktis dan jadi monoton 🙁

Solusinya, mengatur belanja bulanan, belanja mingguan, dan menerapkan food preparation untuk menghemat waktu ketika akan memasak. Menyusun menu mingguan juga dapat menjadi solusi pada poin ini.

 

6. Saya ingin rumah yang nyaman, lapang dan ramah anak. Anak saya bisa bermain dengan aman dan bereksplorasi di dalam rumah. Saya ingin anak saya juga nyaman dan merasa memiliki rumah. Fasilitas di dalam rumah mendukung minat dan hobi anak saya sehingga dapat tersalur dengan baik. Membuatkan atraksi pendukung kegiatan si kecil. Suami ingin membuatkan bolder wall untuk menyalurkan tenaga anak kami dan juga untuk aktivitas berolahraga.

 

7. Saya ingin hidup sederhana, secukupnya, dan seperlunya. Mengurangi kebiasaan konsumtif, lapar mata, dan godaan menambah barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Kendalanya, sering tergoda dengan alasan “butuh” padahal sebenarnya: nggak butuh-butuh amat. Melihat akun onlineshop yang berseliweran juga kadang tergoda 🙁 *gampang banget digoda

Solusinya, segera memotong pemasukan yang ada untuk pos tabungan (diamankan dulu). Mengurangi dan memfilter akun onlineshop di social media, hanya mencari ketika memang benar butuh sesuatu, bisa lewat hastag 😉 dan minta suami untuk mengingatkan soal komitmen ini hehe.


Timeline Tidying Festival

Saya coba membuat time schedule yang lebih detail (per sub kategori) dalam bentuk grafis sederhana untuk memudahkan saya menyelesaikan target. (Sumber gambar dari pinterest, dan saya edit sesuai dengan kebutuhan saya).

task2
Time Schedule Kartikaninggar
(Ilustrasi dari www.teacherbytrademotherbynature.com, dengan modifikasi)

Dalam menyusun timeline tersebut, saya mulai dari nol. Saya belum pernah mencoba di rumah saya sendiri. Sebelumnya saya pernah mencoba metode KonMari di rumah ibu saya. Saya “membuang” barang-barang saya (baju saya dan baju anak saya) yang sudah tidak sparks joy. Namun prosesnya tidak tuntas karena saya hanya berada di rumah ibu saya sebentar (hanya selama suami saya dinas). Meski demikian, saya merasa ada sedikit perubahan – lebih lega dan bahagia – ketika barang-barang yang saya “buang” dapat menjadi lebih bermanfaat di tangan orang lain. Hal ini semakin membuat saya mantab dan bersemangat untuk ber-KonMari.

Kemudian awal tahun 2018 saya pindah rumah, dan saya memang sudah bertekad untuk menata rumah saya ini dengan metode KonMari, dan dikelilingi barang-barang yang sparks joy. Saya menyadari bahwa berbenah tidak sekedar membuang barang-barang, namun juga memulai hidup baru. Merubah mindset adalah yang utama, kemudian menjaga mindset menjadi PR besar. Saya tidak mau terburu-buru dalam pelaksanaannya, demi mendapat hasil yang maksimal. Semoga bisa selalu konsisten dan berhasil sesuai dengan target yang sudah saya buat ini.

Bismillahirahmanirrahim. Wish me luck!

love, ky

#ShokyuuClass #ShokyuuTask2 #konmariindonesia #komunitaskonmariindonesia #konmarimethod #menatadirimenatanegeri #ShokyuuClassBatch2 #ShokyuuClassB2G5 #ShokyuuB2G5Task2 #SparkJoy

 

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *