MamaibukKnowsBest,  Tips

Parenting: How to Handle Tantrum a la Mamaibuk

Tantrum,

juga disebut sebagai ledakan emosi, dalam hal ini terjadi pada balita. Dari beberapa sumber ada yang mengatakan bahwa tantrum juga dapat dialami oleh remaja dan orang dewasa. Pada umumnya, tantrum ditandai dengan reaksi menangis, menjerit, dan mengamuk yang berlebihan. Tantrum bertujuan untuk mencari perhatian dari orang sekitar, maka tak jarang si kecil yang sedang tantrum bisa tiba-tiba berhenti “beristirahat” sejenak ketika di rasa tidak mendapat perhatian dari orang sekitarnya, dan kembali melanjutkan tantrum-nya ketika ada target lagi. LOL

Tantrum pada anak-anak mempunyai suatu tujuan yang ingin didapat, misalnya meminta mainan, makanan, atau hal-hal lainnya. Anak yang sedang kelelahan, ngantuk atau lapar biasanya lebih mudah tersulut sumbu tantrum-nya.

tantrum
Pic: Pinterest (sementara karena belum nemu foto yang pas. ehehe)

Memang Kinan pernah tantrum? Oh tentu saja!

Saya juga pernah hampir kehilangan arah dan kendali. Kemudian saya membaca berbagai artikel, ngobrol dengan sesama ibu-ibu, dengan kakak ipar (yang lebih berpengalaman) juga berkonsultasi dengan Mbak Ayu Kinanti Dewi (psikolog, berbagai tulisan beliau bisa disimak melalui akun Facebook dan Instagram).

Meski menguras tenaga dan stok kesabaran kita, tantrum dikatakan sebagai bagian yang penting bagi kesehatan emosional balita. Saat anak sedang tantrum, adalah saat yang rapuh bagi anak kita tugas kita adalah merangkul anak kita untuk meyakinkan mereka bahwa kita akan selalu ada dan mendampingi anak kita.

Berikut beberapa hal yang bisa diperhatikan untuk meng-handle tantrum pada balita, a la mamaibuk. Ini juga sambil lupa-lupa ingat ehehe. Kalau ingat yang lain nanti akan ditambahkan.


DO

1.Pengalihan

Cara ini cukup ampuh dan bisa menjadi alternatif yang cukup cepat untuk menghentikan atau setidaknya menunda tantrum anak kita. Biasanya saya gunakan di waktu dan tempat yang memang nggak memungkinkan “menerima” tantrum. Misalnya di acara pengajian, akad nikah, di dalam bis umum, dsb.

2.Peluk

Tidak semua anak bisa menerima cara ini, ya. Ada anak yang malah semakin meronta dan semakin dahsyat tantrumnya ketika dipeluk atau disentuh. Kita harus tau karakter anak kita seperti apa. Kinan termasuk yang bisa sembuh dengan dipeluk, dipuk-puk, digendong dan ditenangkan. Biasanya oleh saya. Dipeluk berarti, ibuk sayang Kinan, dan Kinan sayang ibuk, jadi anaknya tenang, begitu.

3.Time Out

Ketika sumbu lagi pendek, atau sedang PMS, atau sedang capeeeek banget biasanya saya perlu cara ini. Time out untuk diri sendiri. Saya menyingkir sebentar ke dapur, minum air putih dingin, atau ambil wudhu dan sholat sambil banyak-banyak istighfar. Ketika menggunakan cara ini, saya menjelaskan pada Kinan, kalau saya sedang sedih/kecewa/marah, tapi saya berusaha untuk nggak marah ke Kinan, gini contohnya:

“Kak, sekarang ibuk baru sedih dan marah. Tapi ibuk nggak mau marah-marah sama Kinan, ibuk mau sholat dulu, Kinan tolong tunggu di sini sebentar sampai ibuk selesai sholat dan sudah berkurang sedih/marahnya. Kinan boleh selesaikan dulu nangisnya di sini. Kalau sudah nanti baru ibuk mau ngomong lagi.”

Biasanya, cara ini cukup ampuh tapi saya jadikan alternatif ke sekian karena capek banget rasanya nahan marah itu huhuhu.

4. Just, wait and see

Ini beneran, ditungguin aja nanti anaknya akan kembali lagi dengan senyum lebar tapi air mata dan ingusnya meler kemana-mana.

Bukan sekali dua kali, kalau saya cuma diam saja menunggu Kinan selesai dengan tantrumnya, Kinan bilang sendiri:

“Kinan sediihhhh ibuuuk. Kinan belum selesai nangis”

terus saya jawab sambil muka tetep lempeng:

“Okey, ibuk tungguin.”

Habis itu yaudah, biasa lagi. Oh sungguh ingin ku-pithes.


DONT’S

1. Menuruti permintaan si kecil

Kita harus kuat. Ini beneran kuat-kuatan, tega-tegaan. Belum lagi bisikan-bisikan mistis: Ya ampun, cuma minta anu aja kok nggak dikasih, udah kasih aja daripada nangis gitu.

No. Kalau saya enggak, kalau yang lain mau ngasih, silakan (biasanya uti kung-nya sih ini ga tegaan ya ehe). Tapi setelah itu Kinan akan dapat tausiah panjang dan berulang dari saya. Ajaibnya, it works! beberapa kali kesempatan, cukup saya ingatkan sekali saja, Kinan bisa menolak dan menahan keinginannya. Anak baiiiikkkk. Cipok! Alhamdulillah.

2. Memarahi di depan umum

Ini hal yang selalu saya berusaha hindari meski udah senut-senut banget buat nahan amarah ini. Terus mengingat-ingat efek buruknya, akibat jeleknya, supaya bisa bertahan. Memarahi anak di depan umum ini, saya belum nemu hal positifnya. Bikin anak malu, minder, kehilangan harga diri, dan kepercayaan dirinya, menjauhkan hubungan dengan anak, well, negatif semua. Jadi, please don’t.

3. Menasehati waktu si kecil belum tenang

Ini sia-sia. Kayak melukis di atas air. Nguyahi segoro, atau apapun peribahasa yang mewakili. Kita kehabisan tenaga, emosi dan kata-kata, tapi mental semua nggak ada yang ngaruh. Jadi, simpan dulu semuanya, sabar dulu, jajan Cha Time dulu, sampai anaknya tenang. Baru sampaikan semuanya dengan damai.

4. Meninggalkan si kecil tanpa pengawasan

Ya jangan. Apalagi di tempat umum. Nggak mau kejadian buruk (Naudzubillah) menimpa anak kita kan. Jangan lah. Tetap harus diawasi, pastikan anak kita aman. Diawasi dari agak jauh nggak apa, asal aman dan tidak lepas dari pandangan.


Setelah tenang dan kondusif,

Tanyakan kenapa dan bagaimana perasaannya. Bantu anak kita untuk melampiaskan perasaannya dengan cara lain. Berempati dan memahami perasaan anak kita waktu itu, kemudian berikan pengertian bahwa caranya dengan menangis, menjerit, dan sebagainya itu tidak tepat.

“Okey, kakak sedih dan kesal ya karena nggak boleh beli mainan yang itu? Ibu tahu rasanya pasti sedih banget, tapi sekarang bukan waktunya membeli mainan, kan? Jadi, maaf ya ayah ibu nggak bisa belikan mainan itu.”

Kemudian, sampaikan juga perasaan kita,

“Ibu dan ayah sedih sekali kalau kakak nangis dan teriak-teriak seperti itu di tempat umum.”

Dua contoh kalimat di atas disebut dengan I-Message, atau pesan aku. Insya Allah akan saya bahas di postingan lain saja yaa hehe.

Saya lebih suka melakukan dialog semacam ini saat berdua saja dengan Kinan. Namun, bila tidak memungkinkan, saya berusaha sepelan mungkin dan menjaga kontak mata dengan Kinan. Hal ini ternyata jauh lebih efektif dibandingkan harus menasehati anak di depan umum. Selain menjaga harga diri anak kita, anak kita juga lebih fokus, tenang dan mendengarkan pesan yang kita sampaikan.

Tidak perlu ada peperangan, karena Mamaibuk menyampaikan pesan dengan damai – ehehe

Semoga kita semua selalu diberi kesabaran dan hati yang lapang. Amiin.

Love, KY

Sumber Bacaan

https://id.wikipedia.org/wiki/Tantrum

https://lifestyle.kompas.com/read/2017/08/30/160000720/tantrum-pada-balita-ternyata-banyak-manfaatnya

https://www.alodokter.com/begini-cara-mengatasi-tantrum-pada-anak

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *