Lifestyle,  Review,  Travel

Silaturahmi Bikin Bahagia

Silaturahmi memperpanjang usia, ini ada hadistnya. Tapi kalau silaturahmi bikin bahagia dan jadi panasea, ini versi mamaibuk dan anak Kinan.

Minggu lalu, tepatnya hari sabtu (18/8) dua sahabat lama datang berkunjung. Tamu jauh yang menyempatkan diri berkunjung ke perbatasan. Menyelipkan kunjungan dalam itinerary panjang mereka. Jeng Ium dan Bung Ekawan.

Keduanya gemati banget sama anak Kinan. Mamaibuk lumayan bisa leha-leha waktu main bareng om tante ini.

Kami mengunjungi museum Ullen Sentalu, makan siang Iga Sapi Bali, mampir ke Kopi Klotok, dan berakhir di Wedang Kopi Prambanan.

Museum Ullen Sentalu

Ini kali kedua (atau ketiga) saya berkunjung ke Museum Ullen Sentalu. Setiap datang selalu ikut terhanyut dengan perasaan para putri di museum ini. Kita dapat mendengarkan penjelasan dari guide tour mengenai kisah romantis hingga pedihnya patah hati sang putri.

Siang itu suasana di Museum rame bangeet T.T Kami harus bersabar dan mengantri beberapa kloter sebelum tiba giliran kami. Satu kloter terdiri dari sekitar 25-30 orang dan mengikuti seorang tour guide yang menjelaskan setiap koleksi yang dipajang di museum. Durasi tour kurang lebih selama 50 menit, dan di dalam museum sama sekali tidak diperbolehkan mengambil gambar dan merekam dengan alat apapun. Tapi tenang, kebutuhan konten socmed tetap dapat terpenuhi di area khusus di luar museum. Di sana kita bisa sepuas hari berfoto, ada juga area yang dibatasi waktu berfotonya, karena harus bergantian dengan pengunjung lain.

Yang paling mengena bagi saya adalah kisah Gusti Nurul. Selain parasnya yang ayu (beneran asli ayu banget dari bayi!), alisnya nanggal sepisan mirip Kinan! hahaaha. Gusti Nurul juga memegang prinsip yang kuat dan berpendirian teguh.

Surat-surat tulisan putri Tineke juga nggak kalah menarik. Meski naskah aslinya ditulis dalam bahasa Belanda, namun telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa lain, termasuk bahasa indonesia, sehingga tetap dapat saya baca sekilas. Benar-benar sekilas karena kami hanya diberi waktu 2 menit saja untuk menikmati surat cinta Putri Tineke.

Tiket masuk museum Ullen Sentalu Rp 40.000,- untuk anak usia 5 tahun ke bawah masih free, sangat worthy bagi saya pribadi. Dengan tiket tersebut kita sudah mendapat kisah lengkap dari mbak tour guide yang ramah, dan juga minuman awet muda resep rahasia para putri keraton. Resepnya beneran rahasia, saya coba “mancing” mbak guidenya tapi tidak berhasil hihi.

Iga Sapi Bali

Dari awal mau berangkat bung Eka dan jeng Ium sudah ngincer banget mau mampir ke sini. Katanya sudah lama nggak makan di tempat ini. Enak banget katanya. Yakin sekali. Setengah maksa buat ikut yakin juga. Bung Eka terakhir mengunjungi Iga Sapi Bali tahun 2008 (?), katanya. Jeng Ium juga sudah bertahun lamanya nggak mampir ke Iga Sapi Bali. Iga Sapi, tapi Bali. he he he saya mah senyum iya iya aja. Ternyata maksudnya, iga sapi bumbu bali. Sip.

Meski sudah beberapa kali diperingatkan soal ukuran porsi Iga Sapi Bali, saya masih kaget aja betapa super gede porsinya x)

Saya lupa menu apa yang saya pesan, tapi iga pesanan saya dibakar dengan madu, dan dilengkapi french fires dan salad. Jeng Ium pesan sejenis sop Iga yang super banget juga porsinya. Bung Eka saya lupa, kayaknya Iga bakar bumbu Bali or something yang geday banget juga iga nya. Saking lapernya, lupa di foto dulu, udah di comotin dulu dan hilang sudah hasrat buat foto-fotoin iga yang geday geday banget itu. Lol

iga sapi bali
Iga Sapi Bali (Pic Source:Β http://eatjogja.com/2015/09/iga-sapi-bali/)

Kinan asyik bermain peran bergantian dengan saya, jeng Ium, dan bung Eka jadi tukang bakso keliling. Di dekat meja kami, ada gerobak bakso lengkap dengan mangkok. Warna kuning menyala gerobak bakso tersebut cukup menarik perhatian Kinan.

Cukup lama kami menghabiskan waktu di sini, hingga melewati dua waktu sholat di tempat ini. Sambil menunggu perut terkondisikan lagi.

 

Kopi Klotok, Pakem

Lepas dari Iga Sapi Bali, jeng Ium penasaran sama Kopi Klotok, Pakem. Yuk langsung berangat, toh searah jalan pulang balik ke Prambanan lagi. Nggak sampai 18 menit, kami sudah sampai di Kopi Klotok. Masuk ke jalan depan Kopi Klotok sudah super padat banget. Alarm mobil bunyi terus bikin jeng Ium grogi T.T

Terus kami baru nyadar, hari itu adalah hari Sabtu, dan long weekend. Ramenya combo. Kayak pasar. Buat dapet tempat duduk aja harus berjuang. Belum lagi antrian prasmanan yang mengular sampai ke luar joglo.

Pasar banget sudah. Pupus harapan menikmati angin spoi-spoi di tepi sawah sambil menyeruput teh anget atau kopi.

Beruntung kami sempat mendapat bangku kosong, dan menyempatkan berfoto dengan polaroid milik jeng Ium.

IMG_1553

 

Wedang Kopi Prambanan

Setelah putus asa dengan kondisi Kopi Klotok Pakem, saya mencoba mengobati kekecewaan dengan merekomendasikan tempat asyik di dekat rumah: Wedang Kopi Prambanan.

 

Mau cerita apa soal tempat ini ya hahaha. Karena lokasinya dekat banget dari rumah jadi berasa biasa aja. Tapi sebagai warga lokal saya juga merasa tempatnya nyaman dan bisa dijadikan alternatif untuk ngopi sambil bersantai. Kita bisa menikmati pemandangan sawah dan angin sore. Menurut saya, paling pas waktu berkunjung ke sini adalah selepas Ashar, tidak terlalu panas, dan enak aja gitu. Jangan tanya soal rasa kopinya, karena saya tentu nggak ngopi haha. Saya selalu pesan hot chocolate atau iced chocolate, enak banget semua!

Untuk menu camilan ada mendoan dan pisang goreng yang tentu saja saya hampir selalu memesan mendoan. he he. Makanan besar bisa langsung ke meja prasmanan, dengan menu khas masakan jawa.


Sebetulnya, saya dan Kinan sedang tidak dalam kondisi sehat. Kebetulan kami kompak kena flu. Tapi ajaibnya, hari itu meler nya kinan biasa aja. Dan besoknya kami berdua sembuh. Katanya karena hati yang bahagia adalah obat. Bisa jadi sih, soalnya berapa hari setelahnya kami flu lagi barengan. Mungkin bahagianya kurang maksimal, karena Apap masih sibuk wira wiri. He he he

 

*bonus foto dibuang sayang

Sekali lagi buat Jeng dan Bung, terima kasih banyak kunjungannya. Semoga sehat selalu, panjang umur, murah rejeki dan ada kesempatan berjumpa lagi.

Love, KY

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *